Wahai sang suami ….
Apakah berat bagimu, untuk tersenyum di hadapan istrimu di kala dirimu masuk menemui istri tercinta, agar engkau meraih pahala dari Allah?!!
Apakah membebanimu untuk berwajah yang berseri-seri tatkala dirimu melihat anak dan istrimu?!!
Apakah menyulitkanmu wahai hamba Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup pipinya serta bercumbu disaat engkau menghampiri dirinya?!!
Apakah gerangan yang memberatkanmu untuk mengangkat sesuap nasi dan menyuapkannya di mulut sang istri, agar engkau mendapat pahala?!!
Apakah susah, apabila engkau masuk rumah sambil mengucapkan salam dengan lengkap :
“Assalamu`alaikum Warahmatullah Wabarakatuh”
agar engkau meraih 30 kebaikan?!!
Apakah gerangan yang membebanimu, jika engkau menuturkan untaian kata-kata yang baik yang disenangi kekasihmu, walaupun agak terpaksa, dan mengandung bohong yang dibolehkan?!!
Tanyalah keadaan istrimu di saat engkau masuk rumah!!
Apakah memberatkanmu, jika engkau menuturkan kepada istrimu di kala masuk rumah : “Duhai kekasihku, semenjak Kanda keluar dari sisimu, dari pagi sampai sekarang, serasa bagaikan setahun”.
Sesungguhnya, jika engkau benar-benar mengharapkan pahala dari Allah walaupun engkau dalam keadaan letih dan lelah, dan engkau mendekati sang istri tercinta dan menggaulinya, niscaya dirimu akan mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda :”Dan di dalam mempergauli isteri kalian ada sedekah”.
Apakah melelahkanmu wahai hamba Allah, jika engkau berdoa dan berkata : “Ya Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya”
Sesungguhnya ucapan baik itu adalah sedekah.
Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri adalah sedekah.
Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan.
Berjabat tangan mengugurkan dosa-dosa.
Berhubungan badan mendapatkan pahala.
Kamis, 18 November 2010
Doa Hari ini
Bismillah irRahman irRaheem
In Name of Allah the Most Gracious, the Most Merciful
Ya Allah….
Seandainya telah Engkau catatkan….
Dia milikku tercipta buatku….
Satukanlah hatinya dengan hatiku….
Titipkanlah kebahagiaan antara kami…
Agar kemesraan itu abadi….
Ya Allah …
Ya Tuhanku yang Maha Mengasihi….
Seiringkanlah kami melayari hidup ini….
Ke tepian yang sejahtera dan abadi….
Maka jodohkanlah kami….
Tetapi ya Allah….
Seandainya telah Engkau takdirkan
Dia bukan milikku….
Bawalah dia jauh dari pandanganku….
Luputkanlah dia dari ingatanku….
Dan peliharalah aku dari kekecewaan…
Ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti….
Berikanlah aku kekuatan….
Menolak bayangannya jauh ke dada langit….
Hilang bersama senja yang merah….
Agarku sentiasa tenang….
Walaupun tanpa bersama dengannya…
Ya Allah yang tercinta…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu…
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan….
Adalah yang terbaik untuk ku…
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui….
Segala yang terbaik buat hamba-Mu ini….
Ya Allah…..
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku….
Di dunia dan di akhirat….
Dengarlah rintihan dari hamba-Mu yang dhaif ini…
Janganlah Engkau biarkan aku sendirian….
Di dunia ini maupun di akhirat…
Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran….
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman….
Agar aku dan dia sama-sama dapat membina kesejahteraan hidup…
Ke jalan yang Engkau redhai….
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh dan solehah….
Ya Allah…..
Berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat…
Dan peliharalah kami dari azab api neraka….
AMIN…AMIN…AMIN…. Amin berjuta2 kali..:)
Jangan sedih, ya.. Lempeng aja! (^_^)
Nay Sudarminto
In Name of Allah the Most Gracious, the Most Merciful
Ya Allah….
Seandainya telah Engkau catatkan….
Dia milikku tercipta buatku….
Satukanlah hatinya dengan hatiku….
Titipkanlah kebahagiaan antara kami…
Agar kemesraan itu abadi….
Ya Allah …
Ya Tuhanku yang Maha Mengasihi….
Seiringkanlah kami melayari hidup ini….
Ke tepian yang sejahtera dan abadi….
Maka jodohkanlah kami….
Tetapi ya Allah….
Seandainya telah Engkau takdirkan
Dia bukan milikku….
Bawalah dia jauh dari pandanganku….
Luputkanlah dia dari ingatanku….
Dan peliharalah aku dari kekecewaan…
Ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti….
Berikanlah aku kekuatan….
Menolak bayangannya jauh ke dada langit….
Hilang bersama senja yang merah….
Agarku sentiasa tenang….
Walaupun tanpa bersama dengannya…
Ya Allah yang tercinta…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu…
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan….
Adalah yang terbaik untuk ku…
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui….
Segala yang terbaik buat hamba-Mu ini….
Ya Allah…..
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku….
Di dunia dan di akhirat….
Dengarlah rintihan dari hamba-Mu yang dhaif ini…
Janganlah Engkau biarkan aku sendirian….
Di dunia ini maupun di akhirat…
Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran….
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman….
Agar aku dan dia sama-sama dapat membina kesejahteraan hidup…
Ke jalan yang Engkau redhai….
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh dan solehah….
Ya Allah…..
Berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat…
Dan peliharalah kami dari azab api neraka….
AMIN…AMIN…AMIN…. Amin berjuta2 kali..:)
Jangan sedih, ya.. Lempeng aja! (^_^)
Nay Sudarminto
~ DO’A UNTUK ORANG TUA ~
Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa’at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.
Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Adhiim
Astaghfirullahal Adhiim
Nay Sudarminto
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa’at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.
Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Adhiim
Astaghfirullahal Adhiim
Nay Sudarminto
Ngupil vs karakter
Orang yang menganggap waktu adalah uang
Kalo ngupil, 2 lobang sekaligus ( Sekali
mendayung, 2 pulau terlampaui )
Orang yang perfeksionis
Kalo mo ngupil, cuci tangan sampai bersih.
Setelah ngupil, tangannya dicuci lagi, dan
hidungnya di kompres dengan alkohol untuk
mencegah terjadinya infeksi karena saat ngupil,
bisa saja jari tangan melukai hidung.
Orang yang berlibido tinggi
Saat ngupil, jarinya di masukkan dan dikeluarkan
dan di masukkan dan
dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan
di masukkan dan
dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan
di masukkan dan
dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan
sampai keluar lendir.
Orang yang tidak berpendidikan
Menggunakan jari orang lain untuk ngupil. (INI
JELAS BUKAN GUEEE!!!!!)
Orang yang tidak berpendidikan tapi punya sopan
santun
Menggunakan jari orang lain untuk ngupil, dan
mengucapkan terima kasih setelah selesai.
Orang yang inovatif
Menggunakan jari kaki untuk ngupil
Orang berjiwa samurai
Saat ngupil, jari dimasukkan ke hidung, ditarik
keatas, diturunkan
kebawah, tarik ke kiri kemudian tarik ke kanan.
Orang yang suka ganti suasana
Selalu menggunakan jari yang berbeda tiap kali
ngupil
Orang yang suka petualangan
Selalu mencoba untuk meraih celah yang tak
pernah diraih tiap kali
ngupil
Orang yang mempunyai time-management yang
tinggi.
Ada jadwal tuk ngupil per minggu, dan selang
waktu tuk ngupil tiap kali ngupil.
Orang yang bagaikan punguk merindukan bulan
Mencoba untuk melompat-lompat,
dan mengharapkan upilnya akan turun dengan
sendirinya.
Orang yang berjiwa pembunuh
Hanya akan berhenti ngupil setelah hidungnya
berdarah.
Orang yang ga tahan digelitik
Sambil ngupil sambil tertawa.
Orang yang mengikuti perkembangan teknologi
Ngupil dengan memakai
antenna handphone.
Orang yang ga mau menghabiskan waktu tuk
melakukan hal sia sia
Membuka lebar hidungnya dan menyuruh orang
lain tuk ngintip apakah ada upil
didalam, karena ga mau sia sia masukin jari ke
hidung tapi ternyata ga ada upil.
Orang yang berjiwa oriental
Menggunakan sumpit tuk ngupil.
Orang yang taat beragama
Berdoa dulu sebelum ngupil.
Orang yang pilih kasih
Hanya ngupil lobang hidung sebelah kiri,
sedangkan yang kanan dibiarkan begitu saja.
Orang yang adil, arif dan bijaksana
Kalo upil dari lobang hidung sebelah kiri lebih
banyak dibanding upil dari hidung sebelah kanan,
maka dia akan masukkan sedikit upil dari lobang
hidung sebelah kiri kedalam lobang hidung sebelah
kanan, baru mulai ngupil lagi.
Orang yang plin plan, alias baru makan buah
simalakama Ngupil salah, ga
ngupil salah, ngupil salah, ga ngupil salah, ngupil
salah, ga ngupil
salah, ngupil salah, ga ngupil salah, ngupil salah,
ga ngupil salah
Orang yang latah
Saat kuku tangan tanpa sengaja melukai hidung,
maka dia akan berteriak “EH MAMA KU UPIL EH
UPIL KU MAMA”
Orang yang pelupa
Saat jari tangan sudah didalam hidung, sesaat dia
lupa apa yang ingin dia lakukan dengan
memasukkan jari ke hidung.
Orang yang ceroboh
Orang yang setelah selesai ngupil lobang hidung
sebelah kiri, kemudian lupa tuk ngupil lobang
hidung sebelah kanan.
Orang yang suka mencontoh kata kata di iklan TV
Setelah ngupil, dia akan berkata “Ngupil? Siapa
takut…”
Nay Sudarminto
Kalo ngupil, 2 lobang sekaligus ( Sekali
mendayung, 2 pulau terlampaui )
Orang yang perfeksionis
Kalo mo ngupil, cuci tangan sampai bersih.
Setelah ngupil, tangannya dicuci lagi, dan
hidungnya di kompres dengan alkohol untuk
mencegah terjadinya infeksi karena saat ngupil,
bisa saja jari tangan melukai hidung.
Orang yang berlibido tinggi
Saat ngupil, jarinya di masukkan dan dikeluarkan
dan di masukkan dan
dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan
di masukkan dan
dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan
di masukkan dan
dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan
sampai keluar lendir.
Orang yang tidak berpendidikan
Menggunakan jari orang lain untuk ngupil. (INI
JELAS BUKAN GUEEE!!!!!)
Orang yang tidak berpendidikan tapi punya sopan
santun
Menggunakan jari orang lain untuk ngupil, dan
mengucapkan terima kasih setelah selesai.
Orang yang inovatif
Menggunakan jari kaki untuk ngupil
Orang berjiwa samurai
Saat ngupil, jari dimasukkan ke hidung, ditarik
keatas, diturunkan
kebawah, tarik ke kiri kemudian tarik ke kanan.
Orang yang suka ganti suasana
Selalu menggunakan jari yang berbeda tiap kali
ngupil
Orang yang suka petualangan
Selalu mencoba untuk meraih celah yang tak
pernah diraih tiap kali
ngupil
Orang yang mempunyai time-management yang
tinggi.
Ada jadwal tuk ngupil per minggu, dan selang
waktu tuk ngupil tiap kali ngupil.
Orang yang bagaikan punguk merindukan bulan
Mencoba untuk melompat-lompat,
dan mengharapkan upilnya akan turun dengan
sendirinya.
Orang yang berjiwa pembunuh
Hanya akan berhenti ngupil setelah hidungnya
berdarah.
Orang yang ga tahan digelitik
Sambil ngupil sambil tertawa.
Orang yang mengikuti perkembangan teknologi
Ngupil dengan memakai
antenna handphone.
Orang yang ga mau menghabiskan waktu tuk
melakukan hal sia sia
Membuka lebar hidungnya dan menyuruh orang
lain tuk ngintip apakah ada upil
didalam, karena ga mau sia sia masukin jari ke
hidung tapi ternyata ga ada upil.
Orang yang berjiwa oriental
Menggunakan sumpit tuk ngupil.
Orang yang taat beragama
Berdoa dulu sebelum ngupil.
Orang yang pilih kasih
Hanya ngupil lobang hidung sebelah kiri,
sedangkan yang kanan dibiarkan begitu saja.
Orang yang adil, arif dan bijaksana
Kalo upil dari lobang hidung sebelah kiri lebih
banyak dibanding upil dari hidung sebelah kanan,
maka dia akan masukkan sedikit upil dari lobang
hidung sebelah kiri kedalam lobang hidung sebelah
kanan, baru mulai ngupil lagi.
Orang yang plin plan, alias baru makan buah
simalakama Ngupil salah, ga
ngupil salah, ngupil salah, ga ngupil salah, ngupil
salah, ga ngupil
salah, ngupil salah, ga ngupil salah, ngupil salah,
ga ngupil salah
Orang yang latah
Saat kuku tangan tanpa sengaja melukai hidung,
maka dia akan berteriak “EH MAMA KU UPIL EH
UPIL KU MAMA”
Orang yang pelupa
Saat jari tangan sudah didalam hidung, sesaat dia
lupa apa yang ingin dia lakukan dengan
memasukkan jari ke hidung.
Orang yang ceroboh
Orang yang setelah selesai ngupil lobang hidung
sebelah kiri, kemudian lupa tuk ngupil lobang
hidung sebelah kanan.
Orang yang suka mencontoh kata kata di iklan TV
Setelah ngupil, dia akan berkata “Ngupil? Siapa
takut…”
Nay Sudarminto
Ayat-Ayat Cinta
Bukalah kedua matamu pada alam semesta ini maka kamu akan melihat indahnya keindahan. Bukalah hatimu untuk melihat rahasia-rahasia keindahan ini maka kamu akan melihat kehidupan ini berbunga-bunga. Selamilah kehidupan dalam sanubarimu maka kehidupan tersebut akan menjadi milikmu seluruhnya. Satukan hatimu padaku maka aku akan menyatukan akalku padamu. Berikan tanganmu kepadaku maka sungguh aku berharap dapat memberimu kehidupan yang damai lagi bahagia dengan seizin Allah. Bukalah dadamu, aku akan memenuhinya dengan kehangatan, cinta dan kejujuran. Bersamalah denganku supaya aku menjadi milikmu dan sebagaimana yang kamu cintai.Berikan kepadaku air mata yang akan menghidupkan hatimu dan menghibur jiwamu. Sebab air mata kita adalah tinta untuk berfikir. Ungkapan-ungkapan kita teguh diatas prinsip dan tangisan kita senantiasa berada diatas Manhaj. Bila kita menuntun hati kita dengan cinta kepada selain yang layak dicintai, maka kita kehilangan milik kita yang paling kita banggakan. Bila kita sedang mencari-cari tempat keberadaan cinta itu, sedangkan kita menyangka keberadaannya, sesungguhnya kita perlu untuk mencintai tapi tidak berlebih-lebihan, menyenangi tapi tidak berlebihan dan rindu tapi dengan pembatasan.
Hati adalah perbendaharaan yang hanya bisa dibaca oleh pemiliknya, dan ketenangan batin adalah cahaya yang bersinar dalam kegelapan, mata air yang memancar ditengah gurun pasir, dan perbendaharaan yang berada dalam rumah yang ditinggalkan pemiliknya. Berapa banyak waktu yang hilang demi cinta ? berapa banyak pikiran yang terkuras demi cinta ? kita tenggelamkan hari kita dalam huruf-huruf cinta !! Pecinta hidup diantara ingat dan lupa, pecinta tidak tahu antara tersambung dan terhalang, cinta membahagiakan dalam nama dan menyengsarakan dalam tulisan, indah dalam gambar dan buram dalam hakikat.
Cinta adalah mahkota tapi dari besi, harta benda tapi dari tanah, dan tambang tapi dari fatamorgana. Cinta apapun yang diklaim maka itu terbatas. Sebab hubungan antar manusia pada umumnya dibangun atas dasar kepentingan, meskipun keindahan itu bermacam-macam dan keanekaragaman itu indah. Setiap hati memiliki tabiat cinta yang mengalirkan manisnya kesenangan. Seandainya manusia bisa melihat hati orang-orang yang keras hatinya, niscaya mereka akan menemukan didalamnya cinta dan kasih sayang yang memancar, akan tetapi cinta dan kasih tersebut tumpah ditanah yang buruk.
Kebahagiaan apakah yang menyamai kebahagiaan dalam cinta ? kesuksesan akhir apakah yang menyamai cinta itu ?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : ” Yang bermanfaat bagi hamba hanyalah cinta karena Allah terhadap manusia yang dicintai-Nya, seperti para nabi dan shalihin; karena mencintai mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah serta cinta-Nya. Sedangkan mereka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan cinta Allah. 1)
Jika hati hamba telah terpaut kepada Allah, maka ia mencintai segala yang mendekatkan diri kepadaNya serta semakin menambah kedekatan. Ia selamanya lebih mencintai Allah. Tiada cinta yang menyamai cinta tersebut. ia hanya mencintai Allah dan mencintai karena-Nya.
Nay Sudarminto
Hati adalah perbendaharaan yang hanya bisa dibaca oleh pemiliknya, dan ketenangan batin adalah cahaya yang bersinar dalam kegelapan, mata air yang memancar ditengah gurun pasir, dan perbendaharaan yang berada dalam rumah yang ditinggalkan pemiliknya. Berapa banyak waktu yang hilang demi cinta ? berapa banyak pikiran yang terkuras demi cinta ? kita tenggelamkan hari kita dalam huruf-huruf cinta !! Pecinta hidup diantara ingat dan lupa, pecinta tidak tahu antara tersambung dan terhalang, cinta membahagiakan dalam nama dan menyengsarakan dalam tulisan, indah dalam gambar dan buram dalam hakikat.
Cinta adalah mahkota tapi dari besi, harta benda tapi dari tanah, dan tambang tapi dari fatamorgana. Cinta apapun yang diklaim maka itu terbatas. Sebab hubungan antar manusia pada umumnya dibangun atas dasar kepentingan, meskipun keindahan itu bermacam-macam dan keanekaragaman itu indah. Setiap hati memiliki tabiat cinta yang mengalirkan manisnya kesenangan. Seandainya manusia bisa melihat hati orang-orang yang keras hatinya, niscaya mereka akan menemukan didalamnya cinta dan kasih sayang yang memancar, akan tetapi cinta dan kasih tersebut tumpah ditanah yang buruk.
Kebahagiaan apakah yang menyamai kebahagiaan dalam cinta ? kesuksesan akhir apakah yang menyamai cinta itu ?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : ” Yang bermanfaat bagi hamba hanyalah cinta karena Allah terhadap manusia yang dicintai-Nya, seperti para nabi dan shalihin; karena mencintai mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah serta cinta-Nya. Sedangkan mereka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan cinta Allah. 1)
Jika hati hamba telah terpaut kepada Allah, maka ia mencintai segala yang mendekatkan diri kepadaNya serta semakin menambah kedekatan. Ia selamanya lebih mencintai Allah. Tiada cinta yang menyamai cinta tersebut. ia hanya mencintai Allah dan mencintai karena-Nya.
Nay Sudarminto
APA YANG KITA SOMBONGKAN ??
Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru, dan dia tertegun
keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti
air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya
bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa
yang sedang Anda lakukan?”
Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
Mereka
pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya
merasa
menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena
itu,
saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang
benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat
terbawah,
sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih
rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh factor kecerdasan. Kita merasa
lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang
lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh factor kebaikan. Kita sering
menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula
kita
mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
sombong
karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi
karena
seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang
lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem)
dan
kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini
berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat
dengan
kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam
keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
waktu,
kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita
butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita
memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego
inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka)
dan
kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran
sejati.
Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua
perubahan
paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa
pada
hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual.
Kesejatian
kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk
hidup
di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan
mati
dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam
kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan,
label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah
“tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari
berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita
lakukan,
semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita
memberikan
sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi.
Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu
akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita
lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta
kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap
berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik
kepada diri kita sendiri.
Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
Nay Sudarminto
keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti
air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya
bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa
yang sedang Anda lakukan?”
Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
Mereka
pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya
merasa
menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena
itu,
saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang
benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat
terbawah,
sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih
rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh factor kecerdasan. Kita merasa
lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang
lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh factor kebaikan. Kita sering
menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula
kita
mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
sombong
karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi
karena
seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang
lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem)
dan
kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini
berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat
dengan
kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam
keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
waktu,
kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita
butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita
memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego
inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka)
dan
kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran
sejati.
Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua
perubahan
paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa
pada
hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual.
Kesejatian
kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk
hidup
di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan
mati
dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam
kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan,
label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah
“tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari
berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita
lakukan,
semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita
memberikan
sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi.
Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu
akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita
lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta
kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap
berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik
kepada diri kita sendiri.
Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
Nay Sudarminto
RISALAH TENTANG PERSAHABATAN SEJATI
Seorang bijak berkata: “Jika kawanmu sanggup menyebut keburukan seseorang di hadapanmu, maka ketahuilah bahwa engkau adalah giliran berikutnya yang menjadi korban.”
“Sesungguhnya lubang jarum tidak terlalu sempit bagi dua orang sahabat yang saling mencintai. Sebalikya, dunia ini tidak cukup luas bagi dua orang yang bermusuhan.”
Benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab: “Pertemuan dengan sahabat dapat
menghilangkan duka.”
Sufyan pernah ditanya: “Apakah kebahagiaan hidup itu?”
Ia menjawab:“Berjumpa dengan sahabat.”
Yang dinyatakan oleh Sufyan adalah benar, karena menurut pepatah: “Sahabat yang tulus ibarat perhiasan di kala senang, benteng kukuh di kala susah. Jika melihatnya, hati merasa senang, jiwa menjadi tenang, dan duka pun sirna.”
Berkata Khalid bin Shafwan: “Manusia yang paling lemah adalah yang enggan bersahabat, dan lebih lemah lagi, orang yang memutuskan tali persahabatan yang pernah terjalin.”
Seorang bijak mengatakan: “Harta karun yang paling berharga adalah sahabat sejati.”
Yang lain berkata: “Sahabat yang suka membantu adalah ibarat lengan dan siku.”
Menurut al-Kindi: “Sahabat adalah seorang manusia, dia ini kamu, hanya saja dia adalah orang lain.”
Orang bijak mengatakan: “Barangsiapa enggan menjalin persahabatan, niscaya hidupnya dipenuhi permusuhan dan kehinaan. Aku bersaksi bahwa sahabat sejati adalah kekayaan yang paling berharga dan bekal yang paling istimewa, karena ia adalah sebagian dari jiwa dan penghapus duka.”
Sementara pepatah bijak lainnya menyatakan: “Seringkali seorang sahabat lebih dicintai daripada saudara kandung sendiri.”
Mu’awiyah pernah ditanya: “Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Seorang sahabat yang mendorongku agar mencintai rakyat.”
Ibnul-Mu’taz berkata: “Orang yang dekat terasa jauh karena permusuhan, sementara orang yang jauh terasa dekat karena cinta dan kasih sayang.”
Malik bin Dinar berkata: “Dua insan tidak akan terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-masing memiliki sifat yang sama dengan sahabatnya.”
karena itu, betapa banyak orang yang berjumpa sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah menjadi teman yang sangat dekat. Ada juga orang yang anda kenal melalui sahabat lama, kemudian ia menjadi sahabat yang lebih dekat ketimbang sahabat lama itu sendiri. Hal tersebut biasa terjadi, karena anda menemukan beberapa kesamaan perasaan, kesenangan, pemahaman, dan idea.
Kita terkadang tidak suka melihat perangai seseorang. Tetapi ketika ia pergi, dan kita telah bergaul dengan orang lain, ternyata orang itu lebih buruk perangainya. Maka saat itulah mata kita baru terbuka, dan melihat sisi-sisi baik sahabat pertama yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.
Orang bijak mengatakan: “Adakah orang alim yang tak pernah salah, adakah pedang yang tak tumpul, adakah orang baik yang tak pernah berubah.”
Sebuah pepatah mengatakan: “Orang yang mencari sahabat dengan syarat tidak melihat kesalahannya dan tetap mencintainya, ibarat seorang musafir yang sesat; semakin jauh melangkah, semakin jauh pula dari negeri tujuan.”
Sa’id bin al-Musayyab berkata: “Tiada orang yang mulia, alim, atau hebat yang terbebas dari kekurangan. Namun yang penting adalah, sebagian kalangan manusia tidak baik jika dibeberkan kekurangannya.”
Jika seseorang mampu mengendalikan emosi dan berusaha keras agar tetap terfokus dengan sisi-sisi positif pada diri sahabatnya, selalu yakin bahwa kebaikannya jauh lebih banyak dari kekurangannya, niscaya tidak akan menzhalimi sahabat atau membuatnya marah. Jika suatu waktu ia dibayangi oleh kesan negatif karena kesalahan yang pernah dilakukan olehnya, maka ia mencoba merenungkan emosinya dan mengatakan pada dirinya:
jika ia pernah menyakitiku
dengan perlakuan buruk satu kali
maka ia pernah berbuat baik kepadaku berkali-kali
jika sang kekasih melakukan satu kesalahan
segala kebaikannya membuka lebar pintu maaf
Jangan menyakiti hati sahabat yang datang untuk minta maaf dengan penuh penyesalan atas kesalahan yang pernah ia buat. Perlakukanlah sahabatmu sebagaimana kamu suka diperlakukan jika berada dalam posisinya.
Yunus an-Nahwi berkata: “Jangan musuhi seseorang, jika kamu mengira ia tidak akan memusuhimu. Jangan ragu untuk bersahabat dengan siapa saja, sekalipun kamu kira ia tidak akan menguntungkanmu. Sesungguhnya kamu tidak pernah tahu, kapan harus waspada terhadap musuh dan kapan perlu bantuan seorang sahabat. Jika ada yang meminta maaf darimu, maka maafkanlah, sekalipun kamu mengetahuinya hanya berpura-pura, agar kamu tidak banyak menyalahkan manusia.”
Betapa indah pepatah seorang Arab Badwi yang mengatakan: “Orang yang penuh kasih sayangadalah yang mau memaafkan dan mendahulukan kepentingan saudaranya.”
Dalam keadaan inilah, Abu Darda’ menyatakan: “Menegur seorang saudara adalah lebih baik daripada harus berpisah dengannya.”
Demikian pula dengan pepatah yang mengatakan: “Teguran dapat menjaga kelangsungan hubungan baik antara sesama manusia.”
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa pada suatu saat Abu ‘Ubaid bin Salam datang berkunjung kepada Imam Ahmad bin Hanbal, ia berkata: “Wahai Abu Abdillah (panggilan Imam Ahmad), melihat kedudukanmu, seharusnya aku mengunjungimu setiap hari.”
Imam Ahmad menjawab: “Jangan berkata separti itu. Sesungguhnya beberapa sahabatku tidak pernah bertemu kecuali hanya sekali dalam satu tahun, namun aku yakin mereka lebih tulus daripada orang-orang yang bertemu denganku setiap hari.”
Ini merupakan realiti, ketulusan cinta tidak harus terbatas pada orang-orang yang sering bertemu. Sebaliknya, kita sering bertemu dengan orang yang tidak disukai bahkan menyebalkan.
Al-Yazidi mengatakan: dalam sebuah pertemuan aku melihat Khalil bin Ahmad, ia duduk di sudut ruangan yang beralaskan karpet. Khalil memberiku tempat duduk, namun aku tidak mau membuatnya susah karena terlalu sempit. Melihat keenggananku, Khalil berkata:
“Sesungguhnya lubang jarum tidak terlalu sempit bagi dua orang sahabat yang saling mencintai. Sebalikya, dunia ini tidak cukup luas bagi dua orang yang bermusuhan.”
Ungkapan separti itu menunjukkan bahwa anda betul-betul mencintai sahabat. Kisah lainnya diriwayatkan oleh Muhammad bin Sulaiman. Suatu ketika Muhammad bin Sulaiman berkata kepada Ibnu Sammak: “Aku mendengar isu yang menyisihkanmu.” Ibnu Sammak menjawab: “Aku tidak peduli.” Dengan nada heran Muhammad bin Sulaiman bertanya lagi: “Kenapa demikian?” Ibnu Sammak segera menjawab: “karena jika isu itu benar, aku yakin kamu pasti memaafkannya. Namun jika tidak benar, kamu tentu menolaknya.”
Seorang Salaf menulis surat kepada sahabatnya: “Amma ba’du, jika aku punya banyak sahabat yang tulus, maka engkaulah yang menempali urutan pertama di antara mereka. Dan jika sedikit, maka engkau adalah orang yang paling tulus di antara mereka. Namun jika sahabatku itu hanya seorang, maka engkaulah orangnya.”
Umar bin Khaththab berkata: “Janganlah cinta membuatmu terbelenggu oleh beban yang berat, dan janganlah rasa bencimu membuatmu hancur lebur.”
Sementara itu ada pula yang bingung menghadapi fenomena sahabat, karena sikapnya yang saling bertentangan dan selalu berubah. Ia menggambarkan kebingungannya dalam untaian puisi:
ku lihat pada dirimu
kumpulan akhlak baik dan buruk
engkau adalah sahabat yang
persis dengan sifat yang ku sebut
dibilang dekat tapi jauh
dungu tapi cerdas
sesaat dermawan lalu bakhil
taat tapi juga maksiat
lisanku akhirnya bingung
harus menghina atau memuji
hatiku pun menilai
dirimu antara tidak tahu dan mengarti
engkau bagaikan bunglon
sehingga membuatku seakan buta
tak mengarti
apakah engkau angin semilir atau badai prahara
aku tidak menipumu
menasihati pun tidak
karena tak tahu
ku putuskan tuk tidak menilaimu
Ada juga yang kecewa karena pernah dikhianati oleh sahabatnya; ia berkata:
ketahuilah bahwa orang-orang
yang pernah kupilih sebagai sahabat
bagaikan ular pasir
yang tak segan menggigit kawan
semula mereka kuanggap baik
namun setelah berteman
aku bagaikan orang
yang tinggal di lembah kering tiada tumbuhan
“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.”
Seorang bijak berkata: “Jika kawanmu sanggup menyebut keburukan seseorang di hadapanmu, maka ketahuilah bahwa engkau adalah giliran berikutnya yang menjadi korban.”
Nay Sudarminto
“Sesungguhnya lubang jarum tidak terlalu sempit bagi dua orang sahabat yang saling mencintai. Sebalikya, dunia ini tidak cukup luas bagi dua orang yang bermusuhan.”
Benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab: “Pertemuan dengan sahabat dapat
menghilangkan duka.”
Sufyan pernah ditanya: “Apakah kebahagiaan hidup itu?”
Ia menjawab:“Berjumpa dengan sahabat.”
Yang dinyatakan oleh Sufyan adalah benar, karena menurut pepatah: “Sahabat yang tulus ibarat perhiasan di kala senang, benteng kukuh di kala susah. Jika melihatnya, hati merasa senang, jiwa menjadi tenang, dan duka pun sirna.”
Berkata Khalid bin Shafwan: “Manusia yang paling lemah adalah yang enggan bersahabat, dan lebih lemah lagi, orang yang memutuskan tali persahabatan yang pernah terjalin.”
Seorang bijak mengatakan: “Harta karun yang paling berharga adalah sahabat sejati.”
Yang lain berkata: “Sahabat yang suka membantu adalah ibarat lengan dan siku.”
Menurut al-Kindi: “Sahabat adalah seorang manusia, dia ini kamu, hanya saja dia adalah orang lain.”
Orang bijak mengatakan: “Barangsiapa enggan menjalin persahabatan, niscaya hidupnya dipenuhi permusuhan dan kehinaan. Aku bersaksi bahwa sahabat sejati adalah kekayaan yang paling berharga dan bekal yang paling istimewa, karena ia adalah sebagian dari jiwa dan penghapus duka.”
Sementara pepatah bijak lainnya menyatakan: “Seringkali seorang sahabat lebih dicintai daripada saudara kandung sendiri.”
Mu’awiyah pernah ditanya: “Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Seorang sahabat yang mendorongku agar mencintai rakyat.”
Ibnul-Mu’taz berkata: “Orang yang dekat terasa jauh karena permusuhan, sementara orang yang jauh terasa dekat karena cinta dan kasih sayang.”
Malik bin Dinar berkata: “Dua insan tidak akan terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-masing memiliki sifat yang sama dengan sahabatnya.”
karena itu, betapa banyak orang yang berjumpa sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah menjadi teman yang sangat dekat. Ada juga orang yang anda kenal melalui sahabat lama, kemudian ia menjadi sahabat yang lebih dekat ketimbang sahabat lama itu sendiri. Hal tersebut biasa terjadi, karena anda menemukan beberapa kesamaan perasaan, kesenangan, pemahaman, dan idea.
Kita terkadang tidak suka melihat perangai seseorang. Tetapi ketika ia pergi, dan kita telah bergaul dengan orang lain, ternyata orang itu lebih buruk perangainya. Maka saat itulah mata kita baru terbuka, dan melihat sisi-sisi baik sahabat pertama yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.
Orang bijak mengatakan: “Adakah orang alim yang tak pernah salah, adakah pedang yang tak tumpul, adakah orang baik yang tak pernah berubah.”
Sebuah pepatah mengatakan: “Orang yang mencari sahabat dengan syarat tidak melihat kesalahannya dan tetap mencintainya, ibarat seorang musafir yang sesat; semakin jauh melangkah, semakin jauh pula dari negeri tujuan.”
Sa’id bin al-Musayyab berkata: “Tiada orang yang mulia, alim, atau hebat yang terbebas dari kekurangan. Namun yang penting adalah, sebagian kalangan manusia tidak baik jika dibeberkan kekurangannya.”
Jika seseorang mampu mengendalikan emosi dan berusaha keras agar tetap terfokus dengan sisi-sisi positif pada diri sahabatnya, selalu yakin bahwa kebaikannya jauh lebih banyak dari kekurangannya, niscaya tidak akan menzhalimi sahabat atau membuatnya marah. Jika suatu waktu ia dibayangi oleh kesan negatif karena kesalahan yang pernah dilakukan olehnya, maka ia mencoba merenungkan emosinya dan mengatakan pada dirinya:
jika ia pernah menyakitiku
dengan perlakuan buruk satu kali
maka ia pernah berbuat baik kepadaku berkali-kali
jika sang kekasih melakukan satu kesalahan
segala kebaikannya membuka lebar pintu maaf
Jangan menyakiti hati sahabat yang datang untuk minta maaf dengan penuh penyesalan atas kesalahan yang pernah ia buat. Perlakukanlah sahabatmu sebagaimana kamu suka diperlakukan jika berada dalam posisinya.
Yunus an-Nahwi berkata: “Jangan musuhi seseorang, jika kamu mengira ia tidak akan memusuhimu. Jangan ragu untuk bersahabat dengan siapa saja, sekalipun kamu kira ia tidak akan menguntungkanmu. Sesungguhnya kamu tidak pernah tahu, kapan harus waspada terhadap musuh dan kapan perlu bantuan seorang sahabat. Jika ada yang meminta maaf darimu, maka maafkanlah, sekalipun kamu mengetahuinya hanya berpura-pura, agar kamu tidak banyak menyalahkan manusia.”
Betapa indah pepatah seorang Arab Badwi yang mengatakan: “Orang yang penuh kasih sayangadalah yang mau memaafkan dan mendahulukan kepentingan saudaranya.”
Dalam keadaan inilah, Abu Darda’ menyatakan: “Menegur seorang saudara adalah lebih baik daripada harus berpisah dengannya.”
Demikian pula dengan pepatah yang mengatakan: “Teguran dapat menjaga kelangsungan hubungan baik antara sesama manusia.”
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa pada suatu saat Abu ‘Ubaid bin Salam datang berkunjung kepada Imam Ahmad bin Hanbal, ia berkata: “Wahai Abu Abdillah (panggilan Imam Ahmad), melihat kedudukanmu, seharusnya aku mengunjungimu setiap hari.”
Imam Ahmad menjawab: “Jangan berkata separti itu. Sesungguhnya beberapa sahabatku tidak pernah bertemu kecuali hanya sekali dalam satu tahun, namun aku yakin mereka lebih tulus daripada orang-orang yang bertemu denganku setiap hari.”
Ini merupakan realiti, ketulusan cinta tidak harus terbatas pada orang-orang yang sering bertemu. Sebaliknya, kita sering bertemu dengan orang yang tidak disukai bahkan menyebalkan.
Al-Yazidi mengatakan: dalam sebuah pertemuan aku melihat Khalil bin Ahmad, ia duduk di sudut ruangan yang beralaskan karpet. Khalil memberiku tempat duduk, namun aku tidak mau membuatnya susah karena terlalu sempit. Melihat keenggananku, Khalil berkata:
“Sesungguhnya lubang jarum tidak terlalu sempit bagi dua orang sahabat yang saling mencintai. Sebalikya, dunia ini tidak cukup luas bagi dua orang yang bermusuhan.”
Ungkapan separti itu menunjukkan bahwa anda betul-betul mencintai sahabat. Kisah lainnya diriwayatkan oleh Muhammad bin Sulaiman. Suatu ketika Muhammad bin Sulaiman berkata kepada Ibnu Sammak: “Aku mendengar isu yang menyisihkanmu.” Ibnu Sammak menjawab: “Aku tidak peduli.” Dengan nada heran Muhammad bin Sulaiman bertanya lagi: “Kenapa demikian?” Ibnu Sammak segera menjawab: “karena jika isu itu benar, aku yakin kamu pasti memaafkannya. Namun jika tidak benar, kamu tentu menolaknya.”
Seorang Salaf menulis surat kepada sahabatnya: “Amma ba’du, jika aku punya banyak sahabat yang tulus, maka engkaulah yang menempali urutan pertama di antara mereka. Dan jika sedikit, maka engkau adalah orang yang paling tulus di antara mereka. Namun jika sahabatku itu hanya seorang, maka engkaulah orangnya.”
Umar bin Khaththab berkata: “Janganlah cinta membuatmu terbelenggu oleh beban yang berat, dan janganlah rasa bencimu membuatmu hancur lebur.”
Sementara itu ada pula yang bingung menghadapi fenomena sahabat, karena sikapnya yang saling bertentangan dan selalu berubah. Ia menggambarkan kebingungannya dalam untaian puisi:
ku lihat pada dirimu
kumpulan akhlak baik dan buruk
engkau adalah sahabat yang
persis dengan sifat yang ku sebut
dibilang dekat tapi jauh
dungu tapi cerdas
sesaat dermawan lalu bakhil
taat tapi juga maksiat
lisanku akhirnya bingung
harus menghina atau memuji
hatiku pun menilai
dirimu antara tidak tahu dan mengarti
engkau bagaikan bunglon
sehingga membuatku seakan buta
tak mengarti
apakah engkau angin semilir atau badai prahara
aku tidak menipumu
menasihati pun tidak
karena tak tahu
ku putuskan tuk tidak menilaimu
Ada juga yang kecewa karena pernah dikhianati oleh sahabatnya; ia berkata:
ketahuilah bahwa orang-orang
yang pernah kupilih sebagai sahabat
bagaikan ular pasir
yang tak segan menggigit kawan
semula mereka kuanggap baik
namun setelah berteman
aku bagaikan orang
yang tinggal di lembah kering tiada tumbuhan
“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.”
Seorang bijak berkata: “Jika kawanmu sanggup menyebut keburukan seseorang di hadapanmu, maka ketahuilah bahwa engkau adalah giliran berikutnya yang menjadi korban.”
Nay Sudarminto
Langganan:
Postingan (Atom)